Hidup Itu Ibarat Menikmati Secangkir Kopi


Malam ini aku masih terjaga dengan kegiatan dan keseharianku. Waktu sudah menunjukan pukul 23.30 mata juga sudah mulai terasa berat. Apa yang tersirat di kepala ini juga sudah mulai buyar. Sejenak mata ini tertuju pada bagian sebelah kanan mejaku. Terdapat secangkir kopi dengan gelas yang lumayan besar menemani malam yang semakin lama semakin larut, hari pun juga sebentar lagi berganti, tinggal setengah jam lagi malam minggu akan berganti menjadi hari minggu. Cepat juga ya, rasanya baru sebentar mata ini terbuka melihat pagi yang indah kini pagi sudah menanti kembali.

Hidup memang begitu cepat, hari-hari diwaktu aku masih sekolah di SMA saja masih teringat jelas di memoriku. Kini aku sudah mempunyai seorang anak, namanya salsa dia baru berumur 6 bulan. Gadis kecil yang sangat cantik dan sangat aku sayangi. Tingkahnya ada-ada saja mulai dari merengek saat melihat ayahnya atau berteriak meminta digendong. Memang anaku belum bisa berbicara tapi sebagai orang tua pasti mempunyai naluri atau semacam hubungan batin kepada si anak. Tumbuh yang besar ya nak jadilah seorang yang membanggakan orang tuamu saat kamu sudah dewasa kelak. Jadilah seorang yang sukses, seseorang yang kuat dan pemberani. Jadilah seseorang yang selalu merasa bahagia jadilah seseorang yang penuh kasih sayang. Sejenak pikiranku melayang jauh, membayangkan saat anakku sudah dewasa kelak.

Sebagai seseorang yang hidup di desa membesarkan seorang anak bukan perkara yang mudah, apalagi dikota kecil ini, semua serba susah. Namun mau bagaimana lagi di kota kecil ini aku dilahirkan, dibesarkan, diberi pendidikan dan sekarang aku sudah menetap disini. Punya rumah sendiri dan punya usaha sendiri, walaupun usaha masih kecil-kecilan tapi sudah cukup untuk kebutuhan harian kami sekeluarga.

Terkadang juga sempat dibikin pusing dengan kebutuhan tak terduga yang harus menguras kantong kami. Tapi semua itu juga akhirnya akan terlewati juga, memang kalau dipikir-pikir rejeki itu sudah ada yang ngatur. Saat kebutuhan kami besar Alhamdulillah juga pendapatan lumayan besar begitu sebaliknya saat kebutuhan sedikit rejeki yang diterima juga sedikit. Kadang aku sempat berpikir juga kalau hidup itu ibarat kita menikmati secangir kopi. Semanis-manisnya kopi pasti ada juga rasa pahitnya, tapi itulah seninya hidup. Pahit manis bercampur menjadi satu menjadikan kenikmatan yang tiada dua. Kopi itu manis dan pahit tapi justru dengan cita rasa seperti itulah banyak orang yang menyukainya, banyak orang yang rela antri hanya untuk menikmati secangkir kopi yang berkualitas dan bercita rasa tinggi.

Kehidupan juga seperti itu, pahit manis bercampur menjadi satu. Membuat hidup kita terasa lebih berwarna. Coba kalian banyangkan jika hidup hanya manis saja, kalian hanya dihadapkan oleh sesuatu yang kalian suka, kalian minta ini langsung ada, kalian ingin itu langsung ada pasti kalian akan bosan. Kalian tidak akan merasakan yang namanya keberhasilan yang sebenarnya, karena keberhasilan yang sebenarnya itu ialah keberhasilan yang melewati segala macam kegagalan terlebih dahulu. Hati kita akan merasakan apa yang disebut dengan kepuasan kebahagiaan. Coba bandingkan dengan yang apa yang kita inginkan selalu ada akan lebih bahagia mana,? Atau begini saja, coba bandingkan saat anak seorang konglomerat lulus kuliah dan saat seorang anak kuli bangunan yang kuliah walaupun harus dilalui dengan bekerja paruh waktu agar bisa membiayai kuliahnya sendiri hingga ia bisa lulus kuliah dengan baik, kira-kira mana yang akan lebih merasakan kebahagiaan saat apa yang diinginkanya tercapai,?

Hidup memang seperti itu, hidup memang seperti secangkir kopi, seruput sajalah nantinya kalian tahu sendiri gimana enaknya.

Komentar